Kategori
Tanaman Pangan

Kale: Seperti Apa Itu dan Bagaimana Menanamnya?

kale

Kale yang sudah dikenal sejak lebih dari 2000 tahun lalu ini yang juga termasuk keluarga kubis, diperkirakan menyebar ke Eropa sekitar 600 BC, melalui para pengembara Celtic. Sayuran daun ini adalah sayuran yang paling banyak dimakan di Eropa pada Abad Pertengahan, ketika kubis mulai populer.

Saat Perang Dunia ke-2, penanaman kale di UK (Inggris) didukung dengan kampanye “Dig for Victory” alias “Mencangkul untuk Kemerdekaan”. Kale mudah tumbuh, dan menyediakan nutrisi yang diperlukan sebagai suplemen makanan bagi orang-orang yang pola makannya terganggu akibat penjatahan makanan.

Dan kini, ia menjadi salah satu favorit para pekebun di berbagai negara karena ia bisa dipanen terus-menerus, dan sanggup bertahan di kondisi tanah yang miskin nutrisi dan becek. Kale juga memiliki rasa yang fantastis dan kaya akan nutrisi. Tampilannya di kebun pun terlihat indah, dengan tekstur yang megah.

Varietas

Yang paling umum ditemui di Indonesia antara lain “Nero di Toscana / Lacinato / Dinosaur” yang memiliki daun panjang berwarna hijau gelap hampir hitam. Perawakannya mirip pohon palem sehingga sering disebut kubis palem. Ada juga yang memiliki daun pendek melebar dan tekstur yang sangat keriting seperti “Siberian Dwarf”, dan merah keunguan seperti “Red Russian”. Tiga varietas kale itu bisa dengan mudah ditemui di berbagai toko di pasar daring (online marketplace).

Cara Menanam

Semai di modul semai menggunakan rockwool, atau bisa juga dengan sekam bakar yang dicampur dengan cocopeat dan siram larutan nutrisi dengan EC 0.5 – 0.8. Taruh di tempat yang lembap dan terkena cahaya yang cukup. Tunggu sampai mengeluarkan 4 daun sejati, baru pindah tanam ke sistem hidroponik yang kamu miliki. Tingkatkan kepekatan larutan nutrisinya secara bertahap sesuai usianya. Kale dapat tumbuh dengan baik di kisaran EC 2.5 – 3.0 (PPM 1750 – 2100).

Lingkungan

Cahaya penuh dengan sirkulasi nutrisi yang baik dan larutan nutrisi kaya oksigen. Bisa juga ditanam di tempat yang ternaungi, asalkan mencapat paparan cahaya yang cukup.

Jarak Tanam

Beri jarak penanaman sebesar 30-80cm, tergantung varietas yang kamu tanam, karena kale dapat tumbuh besar dan memakan tempat. Untuk kale yang akan ditanam sebagai baby kale bisa ditanam dengan jarak 5-10cm saja.

Produktivitas

Kale termasuk sayuran daun yang sangat produktif, dengan masa tanam yang cukup singkat sedangkan masa hidup yang cukup lama. Kamu bisa menanamnya sebagai tanaman annual atau musiman, dan juga hardy biennial atau hingga 2 (dua) tahun. Jika berbunga, tentu saja bunganya bisa kamu makan.

Potensi Masalah

Perhatikan kale yang kamu tanam, karena sayuran ini digemari oleh aphid atau kutu kebul, kutu daun, ulat penggerek daun, ngengat kubis, siput, ulat bulu, dan jamur penyebab akar gada. Gunakan pestisida alami seperti neem oil atau minyak mimba, atau larutan pestisida bawang putih dan sabun cuci piring.

Panen

Bisa mulai dipanen di usia 30 HSS (hari setelah semai), dan seterusnya, sampai tidak produktif lagi.

Tips

  • Perhatikan media tanamnya, jangan sampai kering dalam waktu lama. Kalau baru sebentar, segera beri dia larutan nutrisi kaya oksigen.
  • Jika dipanen di usia muda, bisa dinikmati batangnya juga, baik mentah maupun matang. Tapi kalau sudah tua, bisa dibuat jus ataupun tumisan dan sup, atau dioven bersama daging/ikan.
Kategori
Hidroponik Tanaman Pangan

8 Jenis Sayuran Hidroponik yang Lebih Cepat Tumbuh

Banyak orang yang berencana untuk mulai menanam sayuran hidroponik sendiri, tapi kebingungan dengan “Sayuran apa yang pas untuk pemula, ya?” Atau karena sumbu kesabarannya masih pendek (😅), biasanya ingin menanam sayuran yang cepat tumbuh. Kamu tidak sendirian, karena aku pun juga begitu.

Yang perlu kamu tahu, bercocok tanam sebenarnya adalah kegiatan yang santai, penuh kesabaran dan ketelatenan, dan juga mindful alias harus perhatian. Kita tidak bisa serta-merta mempercepat pertumbuhan tanaman dengan menambahkan pupuk sebanyak-banyaknya, karena selain akan boros juga akan membunuh si tanaman.

Buat kamu yang masih pemula, ada beberapa sayuran yang bisa ditanam dengan cukup cepat—hanya sekitar 1-2 bulan saja. Dan menanamnya pun mudah, karena tidak butuh perawatan berlebihan. Sayuran-sayuran ini juga cocok untuk dijadikan projek menanam bersama anak-anak, karena mereka punya tingkat perhatian dan kesabaran yang biasanya lebih rendah daripada orang dewasa, sehingga dalam waktu singkat mereka sudah bisa memanen sayurannya.

Cara Memilih Sayuran Hidroponik untuk Pemula

Memilih tanaman / sayuran yang akan ditanam itu mudah, karena kamu hanya perlu tahu tanaman apa yang ingin kamu makan. Kalau misalnya kamu suka makan gado-gado, mungkin kamu bisa menanam kangkung, bayam, dan selada. Atau kalau kamu tidak bisa hidup tanpa makan cabe, ya tanamlah cabe. Intinya, tanamlah apa yang ingin kamu nikmati.

Ini akan menambah kegembiraan dan perhatianmu, karena kamu akan terus menanti-nantikan waktu panen. Selain itu, kamu juga bisa menghemat tempat (kalau kamu tidak memiliki kebun yang luas), waktu, tenaga, dan uang.

Cari waktu yang tepat untuk mempertimbangkan apa saja yang akan ditanam. Yang biasa aku lakukan adalah dengan menyusun daftar pertanyaan untuk membantu mengambil keputusan, misalnya:

  1. Seperti apa pola makanku dan keluarga?
  2. Apakah kami akan menjalankan pola makan (diet) yang lebih banyak sayuran dan buah?
  3. Masakan apa yang sesuai dengan pola makan kami kedepan?
  4. Apakah kami akan makan hasil produksi itu terus-menerus, atau akankah berganti-ganti?
  5. Apakah suplai yang kontinyu akan kami perlukan? Atau jangan-jangan malah kami akan cepat bosan dan ingin makan yang lain?
  6. Apakah dengan pengaturan pola makan baru kami juga tetap harus menghemat uang?
  7. Atau apakah kami sedang dalam mode percobaan dan penelitian, sehingga ingin menanam lebih banyak jenis tanaman dan tidak terlalu memperhitungkan faktor keuangan?

…dan seterusnya.

Dan di artikel ini, aku tidak akan menyusun “peringkat 10 besar tanaman hidroponik untuk pemula” dan sebagainya. Karena menurutku, pengalaman bertanam setiap orang itu sangat personal, dan setiap orang punya preferensi yang berbeda-beda. Artikel ini hanya bertujuan untuk mempermudah kamu mengambil keputusan akan menanam tanaman apa.

Jenis Tanaman yang Tumbuh Cukup Cepat

Berikut ini beberapa pilihan tanaman sayuran daun dan sayuran buah yang bisa kamu tanam dalam waktu 1-2 bulan saja.

1. Kale

Brassica oleracea var. acephala

kale

Tanaman sayuran yang sudah dikenal lebih dari 2000 tahun lalu ini yang juga termasuk keluarga kubis, diperkirakan menyebar ke Eropa sekitar 600 BC, melalui para pengembara Celtic. Sayuran daun ini adalah sayuran yang paling banyak dimakan di Eropa pada Abad Pertengahan, ketika kubis mulai populer.

Baca selengkapnya di Kale: Seperti Apa Itu dan Bagaimana Menanamnya?

2. Kai Lan / Kailan

Brassica oleracea var. alboglabra

kailan hidroponik

Sayuran daun ini juga dikenal sebagai Chinese Kale, karena berasal dari Tiongkok. Daunnya tebal, pipih, berwarna hijau kebiruan dan mengkilat dengan batang yang tebal. Ia juga menghasilkan bunga yang mirip dengan brokoli, namun berukuran kecil. Rasanya juga mirip seperti brokoli, tetapi agak sedikit lebih hambar. Namun, tanaman ini sebenarnya lebih kuat daripada brokoli, lho!

Baca selengkapnya di Kailan: Seperti Apa Itu dan Bagaimana Menanamnya?

3. Sawi-sawian

Brassica rapa

pakcoy hidroponik
Foto Pak Choi koleksi pribadi, ditanam dengan metode hidroponik guyur

Sayuran yang memiliki banyak anggota keluarga ini memiliki rasa segar yang unik—khas daerah Timur. Selain ditumbuhkan hingga usia dewasa, sawi-sawian juga bisa dinikmati sebagai microgreens dan baby greens, atau sayuran daun berusia muda dan remaja. Sayuran daun yang paling banyak dikonsumsi di masakan Asia ini dapat dinikmati mentah, setengah matang, ataupun matang. Ditumis, dikukus, direbus pun sama enaknya.

Baca selengkapnya di Sawi-sawian: Seperti Apa Itu dan Bagaimana Menanamnya?

4. Selada

Lactuca sativa

Selada hidroponik
Foto Selada koleksi pribadi, ditanam dengan metode hidroponik NFT pada Oktober 2015.

Baca selengkapnya di Selada: Seperti Apa Itu dan Bagaimana Menanamnya?

5. Bayam

Amaranthus

Bayam hidroponik
Foto Bayam dari AbahTani.com

Baca selengkapnya di Bayam: Seperti Apa Itu dan Bagaimana Menanamnya?

6. Kangkung

Ipomoea aquatica

kangkung hidroponik
Foto Kangkung dari Blog Yeni Herdiyeni

Kangkung adalah tanaman semi-akuatik yang tumbuh di iklim tropis, tetapi tidak diketahui darimana asalnya. Ia diketahui tumbuh di Asia Timur dan Tenggara, sampai Australia, Maladewa dan New Guinea. Kangkung tumbuh di tempat-tempat yang berair banyak seperti rawa, pinggir sungai, dan danau. Batangnya bisa tumbuh hingga 3 meter.

Baca selengkapnya di Kangkung: Seperti Apa Itu dan Bagaimana Menanamnya?

7. Kacang Panjang

Vigna unguiculata sesquipedalis

kacang panjang
Foto Kacang Panjang dari Agrowindo

Kacang Panjang adalah sayuran yang termasuk ke kelompok sayuran buah, dimana bagian yang dinikmati adalah buahnya. Namun, ternyata daun kacang panjang ata yang biasa disebut dengan daun Lembayung juga bisa dijadikan makanan sehari-hari. Ia tumbuh dengan cara memanjat dan melilit. Polongnya, atau buahnya, sudah dapat muncul sekitar 40-45 HSS1. Kamu bisa memakan polong dengan kulitnya yang masih muda, atau bisa juga polong yang sudah matang dengan hanya mengonsumsi kacangnya saja, tidak dengan kulitnya.

Baca selengkapnya di Kacang Panjang: Seperti Apa Itu dan Bagaimana Menanamnya?

8. Basil

Ocimum basilicum

Jenis sayuran hidroponik
Foto Basil koleksi pribadi, dengan metode hidroponik irigasi tetes tersirkulasi

Basil adalah salah satu sayuran herba yang membuatku terobsesi untuk menanam terus menerus dengan benar. Aromanya yang khas bisa digunakan sebagai masakan, maupun sebagai obat.

Baca selengkapnya di Sweet Basil: Seperti Apa Itu dan Bagaimana Menanamnya?


Semoga setelah membaca artikel ini, kamu dapat menentukan akan menanam apa, dan juga sukses menanamnya!

Kategori
Hidroponik Nutrisi & Pertumbuhan

Pentingnya pH dalam Budidaya Hidroponik

Dalam berhidroponik, mempertahankan kondisi lingkungan tanam yang tepat adalah hal penting yang wajib dilakukan. Tetapi kadang, sekalipun kamu sudah mengatur suhu dan kelembapan udara serta air, menyesuaikan kepekatan larutan nutrisi sesuai preferensi tanaman, hingga mengatur aliran udara di lingkungan tanam, tetapi kalau kamu tidak memperhitungkan faktor pH, pertumbuhan tanaman tetaplah tidak akan maksimal.

Agar dapat memberikan pH yang optimal, kamu harus sedikit mengetahui dasar-dasar ilmu kimia. Untuk kamu yang tidak pernah mendapatkan pelajaran kimia di sekolah lanjut dulu, ini akan sedikit mengintimidasi, mungkin. Tapi jangan takut, karena aku tidak akan membahas persamaan-persamaan kimia yang membingungkan.

Apa itu pH?

pH adalah sebuah ukuran untuk derajat keasaman atau kebasaan (tingkat alkali) dari sebuah larutan, yang dipengaruhi oleh suhu dan kandungan di dalam larutan tersebut.

Skala pH dari Smart Garden Guide

Level pH dari larutan nutrisi ditunjukkan dengan angka 0 – 14, dimana angka 7.0 menunjukkan pH netral seperti gambar diatas. Semakin kecil angkanya dari angka 7.0, berarti larutan tersebut semakin asam; sedangkan semakin besar angkanya dari angka 7.0, itu termasuk larutan basa. Air baku atau air murni memiliki pH yang netral yaitu 7.0, maka tepat untuk dijadikan media tanam hidroponik.

Kalau dilihat dari ilmu kimia dibaliknya, pH adalah hasil dari interaksi antara atom Hidrogen dengan atom Oksigen, dan konsentrasi ion hidrogen yang dihasilkan dari interaksi tersebut. Misalnya seperti molekul air yang terdiri dari dua atom Hidrogen dan satu atom Oksigen (H2O). Tetapi ketika suatu senyawa larut dalam air dan menghasilkan ion bebas (atom / molekul yang memiliki muatan listrik), bisa menyebabkan beberapa molekul air pecah, menciptakan ion Hidrogen bermuatan positif atau disebut dengan kation (H+) dan ion Hidroksida bermuatan negatif atau disebut dengan anion (OH).

pH dari sebuah larutan nutrisi mengindikasikan konsentrasi ion hidrogen bebas yang ia miliki. Air baku memiliki konsentrasi kation dan anion yang sama banyaknya, dimana larutan asam memiliki konsentrasi kation yang lebih tinggi daripada anion, dan larutan basa memiliki konsentrasi kation yang lebih sedikit dari anion. Di level molekuler, memiliki karakteristik yang berbeda, dimana larutan asam memiliki sifat asam dan korosif, sedangkan larutan basa memiliki sifat yang licin dan pahit.

Nilai pH menunjukkan pengukuran logaritmik, yang berarti bahwa setiap bilangan bulat mewakili perbedaan sepuluh kali lipat dalam konsentrasi kation, dan oleh karena itu, perbedaan sepuluh kali lipat dalam kekuatan keasaman atau alkalinitas. Jadi, misalnya, larutan yang pH 3 sepuluh kali lebih asam dari larutan pH 4 dan 100 kali lebih asam daripada larutan yang pH 5—dan seterusnya.

pH untuk Hidroponik

Mengapa pH itu penting untuk Hidroponik?

Di alam bebas, akar tanaman menyerap nutrisi yang terlarut dalam air yang berasal dari senyawa organik dan anorganik yang terdapat di tanah dan bebatuan. Mikroorganisme dan berbagai materi organik mempengaruhi pembentukan dan kesuburan substrat tanah, dimana interaksi berbagai mineral dengan air membentuk air menjadi penyangga / buffer fluktuasi level pH, yang secara alami mengendalikan pH tanah. Dan tanaman-tanaman yang tumbuh di tanah sudah berevolusi dan beradaptasi untuk menyesuaikan diri selama ribuan tahun untuk dapat memanfaatkan pH tanah yang terkontrol ini.

Tanpa keberadaan siklus nutrisi dan interaksi seperti yang terjadi di alam bebas ini, maka petani hidroponik lah yang memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan tanam yang ideal supaya akar tanaman dapat menyerap nutrisi yang vital bagi pertumbuhannya.

Di metode / sistem hidroponik yang manapun, tujuan yang harus kita capai adalah menghantarkan air dan nutrisi ke akar tanaman. Mengatur pH sesuai kebutuhan tanaman adalah cara terbaik untuk memastikan penyerapan air dan nutrisi secara optimal. Jika pH nya tidak sesuai, bisa dibilang, tanaman tetap akan “kelaparan”, karena unsur hara / nutrisi yang dibutuhkan belum bisa diserap secara maksimal.

Berapakah pH yang sesuai untuk budidaya hidroponik?

Sebagai patokan umum, pH terbaik untuk hidroponik ada di kisaran angka 5,5 – 6,5; agak sedikit asam. Tetapi, pH yang optimal untuk tiap tanaman berbeda-beda pada tiap jenis tanaman. Jadi sebaiknya, gunakan tandon larutan nutrisi terpisah untuk kelompok tanaman dengan persyaratan pH yang mirip-mirip. Setiap tanaman pun memiliki titik optimalnya sendiri pada kisaran 5,5 – 6,5. Itulah sebabnya, ada beberapa literatur hidroponik dari luar negeri yang merinci daftar kebutuhan pH pada berbagai tanaman.

Hubungan Antara Ketersediaan Nutrisi dan pH

Istilah ketersediaan nutrisi di hidroponik mengacu pada cara masing-masing senyawa nutrisi menjadi kurang atau lebih tersedia untuk akar tanaman, tergantung pada pH larutan nutrisinya. Artinya, pH memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap beberapa nutrisi. Contohnya Nitrogen (N), Kalium (K) dan Sulfur (S) bisa tersedia dalam rentang skala pH yang lebar, kecuali pada tingkatan yang sangat asam. Tanaman tidak dapat tumbuh di larutan nutrisi yang terlalu asam karena Nitrogen menjadi tidak tersedia, padahal itu adalah senyawa yang sangat diperlukan tanaman untuk tumbuh. Atau misalnya Phosphor, yang tidak akan tersedia di level pH 7.5, tetapi bisa tersedia lagi di pH yang sangat basa—walaupun tidak memungkinkan tanaman untuk tumbuh di situ.

Mengapa bisa begitu?

Tanaman memerlukan nutrisi Makro yang terdiri dari N, P dan K; dan nutrisi Mikro untuk dapat tumbuh dan berkembang. Di hidroponik, nutrisi-nutrisi yang diperlukan tanaman akan dihantarkan langsung oleh air. Oleh karena itu, nutrisinya harus terlebih dahulu larut di dalam air. Variasi pada ketersediaan nutrisi bisa terjadi karena pH mempengaruhi bagaimana senyawa kimia yang berbeda berinteraksi, dan dapat menyebabkan terbentuknya senyawa yang kurang soluble atau kurang larut dalam air.

Misalnya pada Phosphor yang merupakan elemen kimia yang sangat reaktif yang tersedia di alam sebagai senyawa kimia bernama Phosphate (P), salah satu senyawa penting yang diperlukan tanaman, dimana ia bereaksi sangat cepat terhadap Kalsium dan Magnesium di dalam larutan basa/alkali. Sedangkan di larutan asam, Phosphate bereaksi sangat cepat dengan Alumunium dan Ferrum (besi). Reaksi-reaksi ini semua dipengaruhi oleh jumlah kation (H+). Ingat, larutan asam punya lebih banyak dibandingkan larutan basa. Karena senyawa yang terbentuk jadi tidak mudah larut, nutrisi yang diperlukan tanaman jadi kurang tersedia sehingga akar hanya akan menyerap air dan sedikit nutrisi yang mungkin terlarut.

Apa yang Membuat pH Berubah-ubah di Hidroponik?

Hal yang paling membuat petani hidroponik khawatir: penyerapan air dan nutrisi terganggu oleh level pH yang berubah-ubah terlalu sering. Ini sebabnya mengapa pemantauan dan penyesuaian pH secara teratur sangatlah diperlukan agar penanaman sukses.

Beberapa faktor penyebab pH mudah berubah di sistem hidroponik, antara lain:

1. Volume larutan nutrisi

Fluktuasi pH akan semakin besar jika volume larutan mencapai di bawah 1 gallon atau 3,8 L per tanaman, karena ia akan memperbesar perubahan konsentrasi berbagai komponen larutan. Dan pH sangat erat kaitannya dengan konsentrasi larutan ini. Solusinya, pastikan kamu menggunakan tandon larutan nutrisi yang memadai sejumlah tanaman di sistem hidroponikmu. Aturan praktisnya, 4 Liter larutan nutrisi per tanaman, pantau dalam seminggu, dan dalam seminggu itu akan berkurang sekitar 40%. Sesuaikan lagi hingga mencapai 4 Liter larutan nutrisi per tanaman.

2. Media tanam yang digunakan

Beberapa media tanam dapat menyebabkan perubahan pH yang signifikan. Misalnya batu kali, pasir vulkanik, kerikil, dan rockwool. Ini disebabkan karena media tanam ini memiliki kandungan mineral alam, yang dapat turut mengubah pH larutan nutrisi. Cara mencegahnya adalah dengan melakukan perendaman menggunakan larutan asam lemah yang diencerkan air baku dengan perbandingan 1:4L selama 1-2 hari. Setelah direndam, bilas dengan air bersih terlebih dahulu, setelah itu baru bisa digunakan sebagai media tanam hidroponik.

3. Algae dan bakteri

Lingkungan penanaman yang lembap seperti hidroponik mudah diserang oleh algae / lumut dan bakteri. Antagonis organik ini dapat diperangi dengan menjaga larutan nutrisi yang kamu gunakan tetap asam, di kisaran pH 5.5 – 6.5. Selain itu, perhatikan juga kesehatan akar tanaman, karena lumut lebih sering tumbuh di sekitarnya. Jika ada akar mati, buang saja sebelum membawa penyakit.

Cara Mengukur Level pH di Hidroponik

Karena pH larutan nutrisi adalah salah satu faktor penting dalam berhidroponik, kamu harus mengukurnya secara berkala. Selain itu, level pH juga sebaiknya diukur lagi setelah kamu menambahkan pekatan nutrisi dan larutan pH penyesuai (pH Up / Down). Sebenarnya, ada beberapa cara untuk mengukur level pH di larutan nutrisi hidroponik, antara lain:

1. Kertas Lakmus

Cara paling murah, namun tidak efisien serta hasilnya yang paling tidak akurat. Karena ia hanya menunjukkan sebuah larutan bersifat asam/basa saja, tidak menunjukkan keakuratan angkanya.

2. Kit Larutan Tes pH

Pengujian dengan menggunakan kit ini sedikit lebih baik daripada kertas lakmus. Harganya pun tidak terlalu mahal. Namun untuk jangka waktu panjang, tidak efisien.

3. Sensor pH Digital

Alat pengukur atau sensor pH digital seperti gambar diatas ini memang harganya cukup mahal. Tetapi, untuk waktu yang lama akan membantumu mendapatkan hasil tanam yang lebih baik. Selain itu sensor seperti ini usianya panjang, bisa bertahun-tahun digunakan.

Seberapa Sering Harus Mengukur dan Menyesuaikan level pH?

Sebaiknya pengukuran dilakukan seminggu sekali, karena dalam waktu seminggu pertumbuhan tanaman cukup signifikan. Jika hasil pengukurannya menunjukkan angka di luar rentang optimal 5,5 – 6,5 barulah disesuaikan lagi agar mencapai angka optimalnya.

Ada 2 jenis larutan untuk melakukan penyesuaian level pH, yaitu: 1. pH Up -> untuk menaikkan level pH jika hasil pengukuran menunjukkan angka dibawah 5,5 atau terlalu asam 2. pH Down -> untuk menurunkan level pH jika hasil pengukuran menunjukkan angka diatas 6,5 atau terlalu basa

Tetapi, untuk menghindari stres pada tanaman karena penyesuaian pH yang terlalu sering, ada baiknya biarkan tanaman beradaptasi dengan pH yang sedikit diluar rentang optimal 5,5 – 6,5. Tetapi jangan dibiarkan terlalu jauh dibawah 5 atau 7, karena bisa berbahaya untuk tanaman.

pH di Air dengan Kadar Mineral Tinggi (Hard Water)

Jika air yang kamu gunakan termasuk air dengan kadar mineral diatas 50 ppm untuk tiap jenis mineral, bisa dikategorikan sebagai hard water. Air jenis ini cenderung menciptakan pH yang tinggi jika ditambahkan larutan pH Down, dikarenakan kandungan mineral yang sudah terlalu tinggi di dalamnya. Solusi yang bisa kamu lakukan adalah dengan menurunkan kadar mineral menggunakan 2 cara: 1. Nanofiltrasi (atau distilasi); dan 2. Reverse Osmosis (RO), yang mana merupakan cara yang paling efisien, bisa diandalkan setiap saat, dan ekonomis untuk jangka panjang. Walaupun investasi peralatannya agak lumayan.

Pengaturan pH dalam Berbagai Fase Tumbuh Tanaman

Saat berada dalam fase vegetatif, tanaman akan lebih banyak menyerap anion (OH), hingga membuat kation (H+) banyak tersisa dalam larutan nutrisi sehingga membuat pH larutan naik. Tetapi saat memasuki fase generatif / menumbuhkan buah, tanaman akan banyak menyerap kation, sehingga anionnya naik dan membuat pH larutan turun.

Rekomendasi Level pH Optimal untuk Berbagai Tanaman

Buah

TanamanpHTanamanpH
Anggur6,0 – 7,5Pisang5,5 – 6,5
Black Currant6,0Raspberry5,8 – 6,5
Blackberry5,5 – 6,5Red Currant6,0
Blueberry4,0 – 5,0Rhubarb5,0 – 6,0
Melon5,5Strawberry5,5 – 6,5
Markisa6,5Semangka5,8
Nanas5,5 – 6,0

Bunga

TanamanpHTanamanpH
African Violets6,0 – 7,0Freesia6,5
Anggrek Cymbidium5,5Gerbera5,0 – 6,5
Anthurium5,0 – 6,0Gladiol5,5 – 6,5
Anyelir (Carnation)6,0Mawar5,5 – 6,0
Aphelandra5,0 – 6,0Monstera5,0 – 6,0
Aster6,0 – 6,5Kana (Canna)6,0
Begonia6,5Krisan (Chrysanthemum)6,0 – 6,2
Bromeliads5,0 – 7,5Pacar Air (Impatiens)5,5 – 6,5
Caladium6,0 – 7,5Pakis-pakisan6,0
Dahlia6,0 – 7,0Palem6,0 – 7,5
Dracaena5,0 – 6,0Snapdragon / Antirrhinim6,5
Ficus5,5 – 6,0Sri Rejeki / Daun Bahagia (Dieffenbachia)5,0

Herbal

TanamanpHTanamanpH
Basil5,5 – 6,5Mustard Cress6,0 – 6,5
Chives / Kucai6,0 – 6,5Parsley5,5 – 6,0
Fennel6,4 – 6,8Rosemary5,5 – 6,0
Lavender6,4 – 6,8Sage5,5 – 6,5
Lemon Balm5,5 – 6,5Thyme5,5 – 7,0
Marjoram6,0Watercress6,5 – 6,8
Mint5,5 – 6,0

Sayuran

TanamanpHTanamanpH
Bayam5,5 – 6,6Lobak Cina / Turnip6,0 – 6,5
Bawang Bombay6,0 – 6,7Lobak Merah / Radish6,0 – 7,0
Bawang Merah6,0 – 6,7Mentimun / Timun5,8 – 6,0
Bawang Putih6,0Okra6,5
Bawang Prei (Leek)6,5 – 7,0Pak Choi / Sawi Sendok7,0
Buncis6,0Paprika6,0 – 6,5
Bit (Beet)6,0 – 6,5Parsnip6,0
Brokoli6,0 – 6,5Sawi5,5 – 6,5
Brussel Sprout / Cuciwis6,5 – 7,5Selada5,5 – 6,5
Jagung Manis6,0Seledri6,5
Kacang Polong6,0 – 7,0Tomat5,5 – 6,5
Kangkung5,5 – 6,5Terong5,5 – 6,5
Kembang Kol6,0 – 7,0Ubi Manis5,5 – 6,0
Kentang5,0 – 6,0Ubi Ungu / Taro5,0 – 5,5
Kubis6,5 – 7,0Wortel6,3
Labu Kuning5,5 – 7,5Zukini6,0

Daftar Istilah

  • Kation: jumlah ion Hidrogen bermuatan positif (H+)
  • Anion: jumlah ion Hidroksida bermuatan negatif (OH)

Kategori
Mitos, Kisah dan Legenda

Tangan Panas vs Tangan Dingin

Sering sekali teman yang datang ke rumah atau tetangga yang kebetulan menyapa berkata padaku, “Enak ya kamu punya tangan dingin. ‘Nanem apa aja pasti tumbuh. Kalau aku tangannya panas, jadi nanem apa aja tanamannya pasti mati.” Aku hanya bisa meringis.

Mereka belum tahu saja, sudah berapa puluh kemasan benih yang terbuang karena tidak tumbuh. Atau kit tanam yang gagal tanam dan hanya sisa potnya saja. Belum lagi sistem hidroponik yang gagal karena kepanasan atau selang dripnya buntu. Ada juga tanaman-tanaman yang mati karena kekurangan cahaya, kebanyakan menyiram air, atau potnya dijadikan tempat pup kucing-kucingku. 😹

Beneran deh, tidak ada tuh yang namanya tangan panas atau tangan dingin.

Menanam itu Bukan Ilmu Sulap atau Sihir…

Mentalitas mudah menyalahkan dengan dalih mitos tangan-panas-tangan-dingin ini yang menurutku…omong kosong. Bercocok tanam itu bukan ilmu sulap atau sihir. Namanya juga bercocok tanam, dicocokkan dulu (dengan lingkungan yang dijadikan tempat tumbuh dan juga si penanam) supaya bisa ditanam. Kita tidak bisa menganggap kalau menanam itu hanya tinggal menyiapkan tanah, taruh benih, kubur, siram dengan air, dan tunggu sampai dia besar dan siap panen.

“Tidak bisa begitu, Ferguso…”

tangan panas

Bercocok tanam itu adalah sains. Ilmu pengetahuan alam. Dan karena itu, ada langkah-langkah dan metode-metode yang mesti diikuti supaya sukses menanam berbagai tanaman yang kamu inginkan.

Coba tanyakan ke diri sendiri:

  1. Sebelum membeli tanaman, apakah kamu sudah tahu dia mau ditaruh dimana? Apakah cahaya yang akan didapatkan cukup? Aliran udaranya bagaimana?
  2. Tanaman yang akan kamu beli, bagaimana perawatannya? Mudah atau sulit?
  3. Lokasi tempat menanamnya, apakah mudah dijangkau dan terlihat olehmu setiap kamu wara-wiri?
  4. Sewaktu membeli tanaman, apakah kamu bertanya tentang perawatannya ke si penjual tanaman?

Kalau 4 pertanyaan itu saja tidak bisa kamu jawab, berarti kamu tidak terlalu peduli apakah tanaman itu akan hidup lama atau mati. 😣 Sayang sih, mending buat jajan boba saja…

Menanam itu Tidak Sulit…

Penyebab utama kita gagal menanam atau dalam berkebun itu biasanya hanya karena belum memahami bagaimana cara tanaman tumbuh dan faktor apa saja yang mendukung pertumbuhannya

Pertanian sudah ada lebih dari 10ribu tahun yang lalu. Banyak sekali pengetahuan yang sudah dihasilkan dari proses panjang itu. Kamu bisa belajar dari buku-buku berkebun, internet, dan media sosial.

Dan terlebih lagi, semua tanaman hanya perlu:

  1. Cahaya;
  2. Air;
  3. Udara (suhu dan kelembapan yang sesuai);
  4. Unsur Hara.

Tapi, tiap tanaman punya preferensi masing-masing. Sukulen misalnya, harus ditanam di tempat yang terkena cahaya matahari penuh, air yang hanya sedikit, udara yang panas dan tidak terlalu lembap; bukan di dalam ruangan kerja yang miskin cahaya matahari dan terlalu sering kamu sirami. Bisa mati dengan cepat karena kebanyakan air. 😅

Baca juga: Sejarah Hidroponik dan Budaya Pertanian Masa Lampau

Kalau kamu melakukan usaha ekstra dengan belajar cara bertanam yang benar, kamu pasti akan sukses. Belajar, terus mencoba dan refleksi hasilnya. Tanya kepada orang yang berpengalaman, gabung ke komunitas dan berdiskusi. Itu juga merupakan cara-cara belajar lain yang bisa kamu lakukan di era internet seperti ini.

Semoga kamu makin berkomitmen untuk jadi makin jago bertanam, ya!

Kategori
Hidroponik

7 Alasan Menanam Hidroponik Lebih Baik daripada di Tanah

Kalau kamu sepertiku, mungkin kamu juga memulai menanam dengan menggunakan tanah. Aku memulai dengan membeli kit tanam bunga Matahari di supermarket hardware merah yang terkenal itu. Setelah membongkar semua isi kitnya dan menanam sesuai dengan cara tanam yang disertakan. Singkatnya, dalam beberapa hari, semaianku mati. 😅

Lalu, aku berhenti sebentar untuk refleksi kesalahan. Sedih rasanya melihat semaian pertama mati. Sambil berjalan-jalan di toko buku, aku menemukan buku komik Hidroponik untuk Semua, yang ditulis oleh tim Wealth & Grow bersama dengan komunitas BBH alias Belajar Bareng Hidroponik. Akupun akhirnya masuk ke komunitas ini. Disitu, aku banyak kenal dengan orang-orang yang sudah lebih sukses berhidroponik, bahkan sampai membangun bisnis dengannya.

Dari hasil belajar dan eksperimenku, aku jadi ketagihan. Dan semakin jelas bagiku bahwa menanam hidroponik jauh lebih unggul daripada menggunakan tanah—baik untuk pertanian skala besar maupun pekebun rumahan sepertiku.

kebun hidroponik
Kebun hidroponik pertamaku di Tangerang Selatan, tahun 2015.

Keunggulan Hidroponik

Aku menyusun daftar keunggulan hidroponik, yang sampai sekarang masih aku terapkan di teras rumahku yang sangat sempit. Mungkin, kamu juga jadi bisa belajar dari sini!

1. Hemat Tempat

Hidroponik menghemat tempat yang besar dibandingkan dengan berkebun secara tradisional di tanah. Kalau di tanah, akar tanaman membutuhkan ruang untuk menyebar agar dapat mencari air, oksigen dan unsur hara. Kalau di hidroponik, akar tanaman terendam dalam larutan nutrisi yang teroksigenasi. Ini membantu untuk penyerapan unsur hara dan air menjadi lebih baik.

Selain itu, kalau tanaman tumbuh terlalu rapat di tanah akan lebih mudah terserang penyakit.

2. Hemat Air

Coba ingat-ingat seberapa banyak kamu menyiram tanamanmu dengan air. Biasanya, setiap beberapa hari sekali kamu akan menyiram air dalam jumlah banyak ke tanaman, untuk memastikan mereka “minum” dengan cukup.

Padahal, tidak semua air yang kamu siramkan itu dapat diserap oleh akar tanaman. Sebagian besarnya akan terbuang ke bawah tanah dan mengalir sampai sungai, lalu ada juga yang menguap / berevaporasi. Yang diserap oleh tanaman hanya sedikit. Saat airnya kering, tanaman jadi sulit menyerap oksigen. Ini akan menyebabkan unsur hara jadi lebih sulit diserap oleh akar.

3. Tidak Perlu Menyiangi Rumput

Hayo, siapa diantara kamu yang sebal karena banyak rumput yang tumbuh di sekitar tanaman, tapi malas mencabutinya karena terlalu banyak? 😂 Aku juga begitu, sih. Makanya, sejak berhidroponik, aku senang sekali karena tidak ada lagi tugas mencabuti rumput. Tanaman juga jadi tumbuh lebih baik karena “jatah makanannya” tidak diserobot oleh tanaman lain yang tidak diinginkan.

4. Minim Hama dan Penyakit

Ingat, minim ya! Bukan tidak ada sama sekali. Dengan hidroponik, jadi lebih mudah mengawasi pertumbuhan hama, karena yang diperhatikan paling pertama hanya tanaman dan larutan nutrisinya saja. Kalau ada masalah jadi lebih mudah kelihatan. Sedangkan tanah sendiri menyimpan banyak bibit penyakit, jamur, virus, dan hama. Ini menyulitkan, karena mendeteksinya jauh lebih sulit.

5. Hemat Waktu Dari Dua Sisi: Pelaku dan Tanaman

Selain bisa menghemat waktu dari sisi kita sebagai penanam, hidroponik juga membantu tanaman untuk tumbuh lebih cepat. Kok bisa?

Tanaman hanya butuh air, unsur hara, CO2, O2, dan cahaya untuk tumbuh. Kalau kebutuhannya sudah disediakan semua dihadapannya, mereka hanya tinggal mengonsumsinya saja, agar bisa berproduksi. Sedangkan kalau menanam di tanah, akar harus menyesuaikan diri untuk dapat menyerap kebutuhan mereka yang tersimpan disitu. Ini akan membutuhkan waktu yang lebih lama.

6. Bisa Mengontrol Pertumbuhan Tanaman

Karena berbagai variabel pertumbuhan tanaman sudah diatur sedemikian rupa, ini akan mengontrol pertumbuhan tanaman sesuai dengan cara yang ditetapkan, agar mendapatkan hasil yang diinginkan. Misal: jika ingin mendapat sayuran Selada yang renyah dengan warna yang cerah tetapi tidak pahit, berarti larutan nutrisi dan intensitas cahaya perlu diatur. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan hasil panen dengan tampilan dan rasa yang mendekati keinginan.

Dari sisi bisnis, ini sangat menguntungkan. Misal untuk pertanian tomat hidroponik skala puluhan hektar seperti yang ada di Belanda atau Spanyol. Jika tomat yang dihasilkan rasa dan tampilannya tidak seimbang atau tidak sesuai dengan selera, maka konsumen enggan membelinya. Untuk itu, perlu dilakukan industrialisasi produksi agar menghasilkan komoditi yang sesuai dengan selera pasar.

7. Bisa Jadi Ilmuwan Ala-ala

Sesuai dengan poin nomor 6, ketika kita bisa mengontrol pertumbuhan tanaman dan mendapatkan hasil sesuai keinginan, rasanya seperti menjadi seorang ilmuwan tanaman! 🥰 Dari situ, kita juga bisa membuat “resep menanam” yang sesuai dengan kondisi di kebun kita sendiri. Karena pada umumnya, beda lokasi akan beda kondisinya. Disitulah pentingnya untuk terus mencoba menemukan pengaturan yang tepat. Di tanah juga bisa sih, tapi kan lama!

Kelihatannya, hidroponik ini menjanjikan sekali, ya! Walaupun begitu, ada juga harga kecil yang harus dibayar. Misalnya, tanah dapat berfungsi sebagai buffer atau penahan jika kita berlebihan memberikan nutrisi (pupuk). Sedangkan jika di hidroponik, karena tanaman akan langsung menyerap larutan yang diberikan, maka berbahaya ketika kita memberi dosis nutrisi yang terlalu tinggi. Ini akan berakibat ke kerugian materi juga.

Selain itu, perlu dilihat apa yang akan kita tanam. Memang sih, di hidroponik bisa menanam apa saja… Tapi, apa iya, kamu mau menanam pohon mangga yang baru akan berbuah setelah beberapa tahun? Biaya yang harus kamu keluarkan untuk membesarkan pohon itu dengan hidroponik tentu akan besar sekali. Ya, kalau mau coba-coba sih silahkan saja.

Baca juga: 8 Jenis Sayuran Hidroponik yang Lebih Cepat Tumbuh

Kalau buatku, tanaman yang sebaiknya ditanam di hidroponik adalah tanaman yang bisa dipanen dalam kurun waktu 3-6 bulan. Karena lebih dari itu, maka sudah tidak ekonomis lagi.

Apa lagi yang kamu tunggu?

Aku sudah kasih 7 alasan kalau menanam di hidroponik lebih menguntungkan daripada di tanah. Kamu tidak perlu memulai dengan langsung membeli sistem tanam besar. Coba saja dengan kit-kit sederhana seharga Rp100-150ribu yang banyak dijual di berbagai marketplace lokal. Mulai dari yang paling sederhana yang tidak menggunakan listrik, dan bertahap naik kelas.

Semoga kamu sukses berhidroponik, ya!


Kredit: Foto dari Lettuce Grow di Unsplash

Kategori
Hidroponik

Sejarah Hidroponik dan Budaya Pertanian Masa Lampau

Yang perlu temenanem ketahui, hidroponik adalah salah satu produk budaya pertanian dimana praktik menanam tanaman hanya menggunakan air, nutrisi tanaman, dan media tanam. Kata hidroponik sendiri berasal dari hydro yang artinya air, dan ponos yang artinya bekerja. Jika digabungkan, maknanya adalah bekerja dengan air.

Walaupun terdengar futuristik, padahal sebenarnya tidak.

Hidroponik di Masa Lalu

Salah satu contoh penanaman dengan hidroponik tertua dan termegah adalah Taman Gantung Babilonia, yang oleh beberapa ilmuwan dikoreksi menjadi Taman Gantung Nineveh. Contoh lainnya adalah Chinampa yang dibangun oleh suku Aztec di abad ke-16 dan juga Taman Apung Cina. Orang-orang di berbagai peradaban tersebut sudah menggunakan hidroponik sejak ribuan tahun silam.

1. Taman Gantung Babilonia (Nineveh)

Taman Gantung Babylonia oleh Ferdinand Knab

Dikisahkan, pada abad ke-6 sebelum Masehi, taman yang dibangun oleh raja Nebuchadnezzar II ini adalah taman terindah di masanya, yang dihadiahkan untuk istri terkasih—Amytis—sebagai bukti cinta. Istrinya saat itu sedang sakit karena rindu rumahnya di Media (barat laut Iran masa kini). Untuk membuat daerah Babilonia yang seperti gurun ini subur, sebuah proyek mahakarya yang melibatkan rekayasa engineering dibangun. Para ilmuwan dan sejarawan mempercayai bahwa sistem pompa kuno, roda air dan tandon sudah digunakan untuk menaikkan air dari sungai Eufrat ke bagian teratas dari taman ini.

2. Chinampa ala Aztec

Chinampas of Aztec
Foto dari EzGro Garden

Suku Aztec adalah suku yang nomadik, alias berpindah-pindah. Di suatu masa, suku ini mulai tertarik untuk menetap di sekitaran danau Tenochtitlan, yang kini dikenal sebagai Meksiko. Tetapi disitu mereka dimusuhi tetangganya yang lebih kuat dan sudah terlebih dulu membangun peradaban. Karena tetangganya tidak memperbolehkan mereka membangun lahan pertanian, maka suku Aztec pun mulai berinovasi.

Mereka tinggal di sekitar danau dan pantai rawa yang basah dengan jumlah populasi yang terus berkembang. Dan karena hanya itulah yang mereka miliki, maka harus dipakai untuk menanam bahan pangan. Setelah melalui proses panjang berbuah kesalahan dan kegagalan, mereka belajar untuk membuat rakit dari tanaman dan alang-alang yang diikat dengan akar yang kuat. Dasar danau yang dangkal dikeruk untuk dijadikan media tanam, karena residu yang berasal dari tanaman yang mati dan tenggelam di danau adalah sumber organik yang baik untuk tanaman. Pupuknya? Berasal dari kotoran manusia dan hewan. Mungkin karena di jaman itu, orang-orang Aztec tidak makan makanan yang aneh-aneh, jadi kotorannya masih bisa digunakan untuk pupuk? 😆

Rakit-rakit yang mereka bangun awalnya berukuran kecil. Lama kelamaan, ukurannya membesar, dan bisa digabungkan dengan rakit-rakit lain, bahkan yang dilengkapi gubuk untuk tempat tinggal si pekebun.

Orang-orang suku Aztec menggunakan Chinampa hingga sekitar abad ke-19, namun jumlahnya terus menurun. Kini ada beberapa Chinampa yang masih bisa ditemui di Meksiko, namun mereka bekerja dalam “isolasi”, karena lahan yang digunakan sebagai Chinampa adalah lahan-lahan di pelosok daerah. Padahal, seharusnya sistem ini pun bisa dijalankan di kota moderen.

3. Taman Apung Cina

Taman Apung China
Foto dari PermacultureNews.org

Di Cina, taman apung adalah penanaman dengan memanfaatkan danau. Modelnya mirip dengan Chinampa milik suku Aztec. Namun sesuai dengan catatan Marco Polo di jurnal perjalanannya yang terkenal, sistem tanam dengan air ini digunakan untuk menanam padi. Hanya saja, tidak banyak penelitian sejarah yang mempelajari kegiatan ini.

Seperti yang kita tahu, hingga sekarang padi ditanam dengan menggunakan air yang sangat banyak. Ini bisa dicapai lebih mudah dengan memanfaatkan danau ataupun sungai dengan aliran yang tenang.

Hidroponik Modern

Referensi penanaman hidroponik moderen paling awal yang bisa ditemui (dalam kurun 100 tahun) dilakukan oleh seorang pria bernama William Frederick Gericke. Ia adalah seorang ahli nutrisi tanaman dari University of California, yang juga membuat nama “hidroponik” itu sendiri. Saat bekerja disana, ia mulai mempopulerkan konsep menanam dengan larutan nutrisi, bukan hanya dengan air, dan tidak menggunakan tanah.

William Frederick Gericke
Acc 90-105, Box 8, Folder Portraits Ger

Seperti kebanyakan penelitian non populer, kolega-koleganya meragukan konsep tersebut. Namun Gericke berhasil membuktikan kalau mereka salah, dengan menanam tomat hingga mencapai ketinggian 25 kaki (sekitar 7,6 meter) hanya dengan menggunakan larutan nutrisi saja.

Eksperimen Gericke berhasil menginisiasi penelitian-penelitian lanjutan seputar hidroponik. Termasuk penelitian yang membuktikan banyak manfaat yang bisa didapat dari menanam secara hidroponik dibandingkan dengan menanam di tanah.

Keuntungan Hidroponik

Salah satu keuntungan besar dari menanam secara hidroponik adalah konservasi / penghematan air. Ketika menanam tanaman di tanah, banyak air yang terbuang, karena adanya faktor evaporasi air dan juga air yang terbuang ke bawah tanah. Terlalu banyak air bisa membuat tanaman sesak nafas karena tidak bisa menyerap Oksigen, tetapi kekurangan air juga membuat tanaman kering lalu mati.

Hidroponik menyelesaikan masalah-masalah ini dengan tiga cara:

1. Reservoir Nutrisi Beroksigen

Air yang ada di tandon / reservoir bisa diberi oksigen secara konstan, supaya akar tanaman mendapat suplai oksigen yang optimal. Permasalahan penyiraman yang terlalu banyak bisa diselesaikan, karena tidak ada lagi tanah yang menutupi akar.

2. Penggunaan Air Lebih Sedikit

Hidroponik menggunakan air lebih sedikit karena airnya disirkulasi. Pada pertanian tradisional, air disiramkan ke tanaman. Padahal, hanya sejumlah kecil darinya yang bisa diserap oleh tanaman. Sebagian besarnya hilang karena menguap (evaporasi) ke udara, atau lari ke bawah tanah. Sedangkan di hidroponik, air yang tidak terpakai oleh tanaman akan dimasukkan lagi ke tandon, bergabung dengan larutan nutrisi disitu, siap digunakan di siklus “penyiraman” berikutnya. Untuk area yang kering dan gersaing, ini adalah keuntungan yang masif.

3. Kontrol Penanaman Secara Penuh

Penanam hidroponik punya kontrol menyeluruh terhadap sistemnya. Hama dan penyakit jauh lebih mudah dikendalikan—karena lingkungan tanamnya lebih mudah dipindah, dan juga diangkat dari tanah. Ini akan menyulitkan hama untuk menggapai tanaman mereka. Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan tanah secara langsung jadi nihil. Yang terakhir, pekebun juga punya kendali penuh atas nutrisi yang diberikan pada tanaman. Ini tentunya dapat menghemat biaya, karena disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.

Pertanian di Masa Depan

Baca juga: Mari Berimajinasi tentang Agrikultur di Masa Depan

Dengan semua keuntungan ini, nampaknya tidak ada masalah dengan hidroponik, ya? Tidak juga, sebenarnya. Tanah berfungsi sebagai penahan jika ada kesalahan, misalnya saat pemberian nutrisi. Di hidroponik, jika ada kesalahan pemberian nutrisi, imbasnya ke biaya operasional yang meningkat, dan juga resiko gagal panen. Selain itu, lingkungan tanam hidroponik yang lebih lembap (karena ada air yang banyak) dapat lebih mudah diserang jamur dan lumut, yang juga dapat menggagalkan panen.

Foto dari ATFS Lab

Menurutku, ini adalah harga kecil yang mesti dibayarkan untuk perkembangan besar yang dibawa oleh hidroponik, jika dibandingkan dengan pertanian tradisional dengan menggunakan tanah.

Dan dengan semakin berkurangnya jumlah air bersih serta kebutuhan pangan yang terus meningkat di seluruh dunia, buatku hidroponik adalah solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah ini, dengan cara-cara yang lebih lestari dan berkesadaran ekologi.

Hidroponik adalah pertanian di masa depan!